Aku dilahirkan 43 tahun silam di kota kecil tercinta, Trenggalek yang penuh kedamaian, di wilayah timur Pulau Jawa. Aku berasal dari keluarga yang sangat sederhana, orang tuaku seorang petani. Berbekal ijazah SMEA tahun 1995 aku hijrah ke Jakarta, dengan harapan dapat membantu perekonomian keluarga. Aku membangun keluarga kecil sejak tahun 1997, mendapat karunia dua buah hati laki laki dan perempuan. Kehidupan berjalan seperti biasa, sampai pada tahun 2006, aku raba terasa ada sebuah benjolan di payudaraku, dokter memutuskan untuk melakukan operasi yang kemudian aku tahu sebagai tindakan lumpectomy, operasi di mana hanya tumor dan jaringan di sekitarnya diangkat. Sujud syukurku pada Allah SWT, begitu hasil pemeriksaan PA (Patologi anatomi) , tidak menunjukan keganasan. Alhamdullilah rasa syukur yang tak terhingga..aku jalani hidup kembali seperti layak nya keluarga lain, menjalani kehidupan dengan suami dan anak anakku.
Aku bekerja di sebuah perusahaan Farmasi di Jakarta dan dengan usaha yang keras serta dukungan keluarga, aku dapat menyelesaiakan kuliah di salah satu Sekolah Tinggi di Jakarta. Setelah bekerja selama kurang lebih 18 tahun, pada tahun 2013 kuputuskan untuk hijrah ke perusahaan lain, yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Tempat kerja yang baru di Bogor, membuat aku harus menempuh jarak yang cukup jauh setiap hari, dari rumahku di Bekasi. Aku jalani rutinitas yang kadang sangat melelahkan ini.
Cerita hidupku berubah hingga pada suatu pagi saat berangkat ke tempat kerja aku rasakan ada yang lain dengan payudara kiriku di bagian atas. Kalau diraba terasa ada daging yang lebih tebal, dengan riwayat kista di payudaraku, tanpa menunggu lama lagi aku langsung memeriksakan diri ke dokter bedah tumor yang menyarankan pemeriksaan USG dan Mamografi, saat mengambil hasil pada minggu berikutnya adalah saat dimana aku merasakan kegelisahan yang sangat, perasaan takut yang hebat. Ditemani salah satu anakku, aku dengarkan dokter membacakan hasil pemeriksaannya. Dengan tenang beliau sampaikan bahwa “ibu ini selnya nakal dan ibu harus merelakan payudaranya diangkat satu” terhenyak diam dan tak yakin apa yang aku dengar..kuminta beliau mengulangi pembacaan hasil itu sampai tiga kali dimana kata “merelakan payudara satu” terasa menghunjam hatiku. Tak terasa air matapun menetes saat itu aku sendiri didepan dokter, “silahkan menangis dan kasih tahu suami tentang hal ini” kata dokter Wim Panggar Besi yang nyaris tak terdengar, aku keluar dari ruang pemeriksaan dengan hati remuk redam anakku yang menunggu diluar bingung saat melihatku berurai air mata”kenapa ibu menangis, ada apa bu” tanyanya aku tak kuasa tuk menjawab, aku ajak pulang dengan lunglai..sepanjang perjalanan air mata tak bisa berhenti..sampai di rumah tangisku kian menjadi. suami berusaha menenangkanku,
Lelah aku menangis sepanjang malam aku berpikir aku mau hidup lebih lama lagi aku harus ikuti smua saran dokter, tepat tgl 01 Desember 2014 operasi dilakukan dengan lancar meski memerlukan waktu lebih lama dari jadwal operasi semula karena selain mastectomy operasi pengangkatan seluruh payudara (biasanya termasuk puting payudara) dan termasuk pengangkatan satu atau lebih kelenjar getah bening (lymph nodes) dari daerah ketiak payudara kiri, dokter juga mengambil jaringan payudara sebelah kanan lumpectomy lagi. Sudah aku buang jauh jauh rasa sedih tak ada lagi rasa kehilangan namun terlihat jelas kesedihan keluarga besar dengan apa yang harus aku lalui. Saat operasi selesai tak lupa aku panjatkan syukur kembali Alhamdullilah banyak hal yang patut aku syukuri dengan terdiaknosa kanker payudara, ketahuan lebih dini, bersyukur mastek sebelah kiri aktifitas tangan kanan tidak terganggu bersyukur kembali banyak support dari keluarga, sahabat dan smua teman tercinta. Dari salah satu teman yang sangat peduli dengan kondisiku, aku diperkenal adanya komunitas yang beranggotakan orang orang seperti aku, dan akupun bergabung dengan komunitas tersebut dengan harapan mendapat banyak teman dan lebih tahu banyak tentang kanker.
Kira kira sebulan setelah operasi dilakukan aku kembali bertemu dokter untuk evaluasi dan merencanakan terapi selanjutnya. Dokter telah mempersiapkan jadwal terapi berikutnya yaitu kemoterapi, pengobatan yang menggunakan obat keras (beracun/kimia) untuk merusak atau membunuh sel-sel yang tumbuh dengan cepat. Ada beberapa sahabat yang menyarankan untuk menggunakan pengobatan herbal dan menghindari kemoterapi karena efek kemo dianggap terlalu berat dan beresiko. Namun dengan tekat kuat aku tetap mengambil keputusan menjalani kemoterapi.
Dengan langkah pasti aku temui dokter yang telah menyiapkan jadwal kemoterapi alangkah terkejutnya aku mendengar angka fantastic yang disebutkan dokter untuk yang namanya kemoterapi, lunglai dan tak bisa berpikir kembali semangat yang aku punya saat berangkat hilang musnah, dari mana aku akan mendapatkan uang untuk biaya kemoterapi sebesar itu? Sedih yang luar biasa kemampuan keuangan kami tak bisa dipaksakan. Melihat kepedihan kami dokter yang merawat aku memberikan saran yang sangat bijak, beliau menanyakan apakah ada jaminan kesehatan keluarga?
Aku seperti terbangun dari tidur aku teringat suamiku peserta Askes, kemudian kami segera mengurus kartu Askes yang sebelumnya tak pernah kami pakai. Perjuangan berat dimulai dari sini aku pasien kanker yang berjuang mendapat kesembuhan dengan menggunakan jaminan Askes yang telah menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Sebagai pengguna Askes baru aku harus banyak mencari informasi tentang regulasi penggunaan Askes. Seperti yang telah banyak diberitakan di media massa, aku harus mengikuti smua ketentuan yang berlaku untuk pasien BPJS. Dan bukan rahasia jika pasien BPJS kadang dinomorduakan.
Antri panjang dari loket ke loket suatu hal yang sangat melelahkan apalagi saat itu kondisi fisik belum pulih pasca operasi. Hal yang membuat aku selalu semangat dan menjadi kuat keinginan aku untuk sembuh aku merasa masih dibutuhkan oleh keluargaku. Untuk mendapatkan selembar kertas jaminan ke RSCM perlu waktu hampir seminggu. Sebagai rumah sakit pusat pasien di RSCM lebih banyak dibandingkan pasien di RSUD, artinya ujian fisik dan kesabaran lebih berat lagi disini. Pertama kali berobat di RSCM, aku hanya bisa menangis sedih saat antri berdesakan dengan ratusan pasien lainnya sementara belum paham situasi rumah sakit tersebut. Aku harus berlayar antri dari loket ke loket bisa sampai lima loket lebih yang harus dilalui dengan antri, untuk ke dua kali dan berikutnya, aku berpikir untuk meninggalkan beban kelelahan dengan beranggapan apa yang aku jalani sebagai sarana belajar dan memahami arti kesabaran dan ikhlas,semua rutinitas di rumah sakit menjadi terasa ringan. Aku bisa membaur dengan pasien lain dan saling berbagi pengalaman masing masing, aku merasa menemukan keluarga yang sangat besar.
Untuk mendapatkan kemoterapi tak semudah yang aku bayangkan setelah melalui pemeriksaan dokter RSCM meminta dilakukan pemeriksaan radiologi ulang sesuai prosedur yang berlaku. Karena itu aku harus menguras tenaga mondar mandir untuk pinjam slide dan blok paraffin ke Rumah Sakit tempat aku dioperasi karena ada hasil pemeriksaan radiologi yang berbeda. Dengan meyakinin hasil pemeriksaan di RSCM dokter menjadwalkan enam kali kemo. Bismilah akhirnya aku jalani kemoterapi aku yakinkan diri kesembuhan akan datang aku berlapang dada dengan teman teman yang menyarankan jangan lakukan kemo, itu bentuk kepedulian mereka meski bukan pilihan aku. Believe & become, aku tanda tangan kontrak kemo (protokol) tertera jelas resiko kemo disitu mual, kerontokan rambut berpengaruh pada fungsi ginjal, jantung bahkan resiko kematian dan aku sudah siap dengan segalanya.
Berat memang smua aku jalani tak jauh dari protocol yang sudah aku tanda tangani, dan sebagai persiapan kemoterapi selalu dilakukan pemeriksaan darah di laboratorium untuk memastikan kondisi fisik siap menjalani kemoterapi, hampir setiap minggu harus siap dengan tusukan tusukan jarum suntik, duniaku pait saat itu apapun yang aku makan dan minum terasa pait mual dan kemudian muntah. Kuku kuku kaki,tangan, kulit smua menghitam, bahkan pernah mukaku bengkak, tenggorokan dan mulut terluka. Hal yang paling menggetarkan hati sedih dan sakit luar biasa saat helai demi helai rambut terlepas dari kulit kepala. Dengan dukungan keluarga dan semua fihak..aku mampu menyelesaikan kemoterapiku meski dengan kepala botak aku sanggup meneruskan kehidupanku aku harus kembali ke aktifitas sebagai karyawati, selalu bersyukur aku diijinkan bekerja di rumah saat menjalani kemoterapi.
Aku kembali…seperti terlahir kembali meski tak sekuat dulu lagi ada keterbatasan yang harus aku pertimbangkan setiap langkahku. Aku mendapatkan terapi obat tamoxifen selama lima tahun serta pemeriksaan rutin rontgen dan USG. Salah satu hasil radiologi, IHK Her 2 (+) seharusnya aku mendapatkan kemoterapi lanjutan dengan obat Herceptine kembali karena ada beberapa kendala terpaksa aku tinggalkan setelah aku beberapa kali konsultasi dengan beberapa dokter juga. Aku percaya kebesaran Allah SWT pasrah setelah usaha maksimalku.
Tak berhenti disini perjalanan medisku, setahun pasca kemo aku mengalami keropos gigi, dokter menyarankan untuk melakukan pencabutan dua belas gigi geraham yang keropos parah dan sebagian tinggal akar indikasi pengaruh obat kemo. Aku gelisah antara yakin dan tak yakin benarkah aku harus melakukan cabut gigi sebanyak itu, panas dingin badan jika mengingat harus mencabut dua belas gigi sekaligus. Aku mengumpulkan kekuatan dan keberanian dan kuputuskan untuk menyerahkan diri di meja operasi kembali. Alhamdullilah semua terlewati kini aku sedang persiapkan gigi pengganti untuk membantu mengunyah makanan, namun dari hasil foto panoramik dokter menemukan satu kecurigaan adanya infeksi dalam, aku berharap smua baik baik saja.Saat tulisan ini aku buat masih dalam perawatan mulut dan gigi.
Perjalanan hidup dengan dunia baru dengan stempel penyitas kanker payudara aku bergabung komunitas komunitas kanker yang selalu siap memberi support bagi kami semua, aku serasa memiliki keluarga besar yang penuh kehangatan dan empati. Selalu ada hikmah di balik kejadian. Aku tak sendiri dan masih banyak penyitas kanker yang lain yang dengan gigih berjuang untuk mendapatkan kesembuhan. Banyak pihak selalu berkampanye untuk membuat melek kesehatan.Untuk melakukan SADARI dan pengobatan dini terhadap kanker, dengan harapan semakin banyak penyitas kanker yang bisa survive lebih lama. Ada sebagian diantara kami yang tidak tertolong karena mengabaikan tindakan medis, pergi ke alternative bukan solusi yang lebih baik. Kanker berpacu dengan waktu. Kini aku yang terlahir kembali berusaha lebih memperbaiki diri, aku ingin seperti mereka yang mampu mengantar anak cucu dalam kehidupan yang bahagia.